Hidup Bagai Berlian

Salam sehat…

Beberapa saat lalu saya mendapat share dari wa group keluarga. yang menginspirasi untuk membuat tulisan ini. Ya … Hidup bagai Berlian untuk saat ini masa pandemi yang berkepanjangan membuat hampir tiap orang mengalami tekanan ekonomi, pikiran, batin tanpa terkecuali disemua aspek kehidupan kita. Tekanan tersebut mengakibatkan bermacam-macam reaksi tergantung kedewasaan dan wawasan tiap individu menerima keadaan ini. Kita seakan ditempa, dibakar habis menjadi arang hampir menjadi abu. Namun ternyata arang mempunyai nilai filosofi yang sangat tinggi. Bagaimana sebuah berlian dibentuk dari carbon (yang kita kenal sebagai arang, meskipun tidak sesederhana itu).

Kebanyakan berlian alami memiliki usia antara 1 miliar dan 3,5 miliar tahun. Sebagian besar terbentuk pada kedalaman antara 150 dan 250 kilometer (93 dan 155 mil) di mantel bumi , meskipun beberapa telah datang dari kedalaman 800 kilometer (500 mil). Di bawah tekanan dan suhu tinggi, cairan yang mengandung karbon melarutkan berbagai mineral dan menggantikannya dengan berlian. Baru-baru ini (puluhan hingga ratusan juta tahun yang lalu), mereka dibawa ke permukaan dalam letusan gunung berapi dan disimpan dalam batuan beku yang dikenal sebagai kimberlites dan lamproites . Berlian buatan manusia dapat tumbuh dari karbon kemurnian tinggi di bawah tekanan dan suhu tinggi atau dari gas hidrokarbon dengandeposisi uap kimia (CVD). (Berlian, Wikipedia, )

Secara bodhon untuk memahami tulisan di atas, Bahwa Carbon mendapat tekanan dan panas yang sangat tinggi dan berproses dalam perut bumi. Namun dari proses tersebut menghasilkan berlian yang sangat berharga. Disinilah letak filosofinya dan dapat kita ambil sebagai pembelajaran hidup dalam masa ini.

Masa kecil, saya sering mendengar cerita pewayangan dari Alm. Ayahanda. Mendengar beliau bercerita penuh filosofi kehidupan dalam pewayangan sungguh mengasyikan. Sering saya larut dalam cerita ayahanda dengan gaya seakan seorang dalang yang sedang melakonkan para wayang. Salah satu cerita yang saya ingat sampai sekarang meski sayub-sayub lupa(hehehehe..) adalah cerita jabang tetuko. Menceritakan tentang kelahiran tokoh sakti anak dari Bimo yang bernama Gatotkaca. Ketika masih bayi jabang tetuko diceburkan dalam kawah candradimuka gunung jamurdipo (hehee.. entah dimana gunung itu berada) dalam kawah candradimuka jabang tetuko ini mengalami tekanan yang sangat berat namun beberapa saat melewati ujian ini sang bayi tetuko muncul dari kawah candrodimuka dalam ujud dewasa sakti mandraguna dan berganti nama menjadi Gatotkaca dengan julukan otot kawat balung wesi.

Jika kita mencermati 2 ringkasan di atas, bisa diambil filosofi hidup dari tekanan yang berat akan menghasilkan sesuatu yang. Dalam mensikapi kondisi sekarang ini kita bisa bercermin, refleksi diri dan belajar dari filosofi tersebut sehingga kita menjadi pribadi yang sabar, cerdas dan tangguh. Pada saat kondisi seperti ini saya berpendapat bahwa tekanan pada masyarakat kita sebagai individu maupun makluk sosial ada 2 macam, yaitu tekanan medis dan tekanan keuangan.

Akibat Pandemi Covid banyak orang kehilangan atau berkurang pendapatannya, banyak perusahaan yang mulai bangkrut, terjadi phk yang membuat individu didalamnya mengalami tekanan dan stres. Bahkan pandemi ini telah merenggut banyak nyawa tanpa pandang usia, ras dan agama. Ketika melihat keadaan ini sebagian orang mengalami frustasi, patah semangat dan ingin menyerah pada keadaan dan kehilangan harapan. Tak seorangpun tahu apa yang akan terjadi dimasa depan. Namun sebagai manusia yang diberi kemampuan lebih dari segala ciptaan yang ada, maka harus tetap optimis dan tetap semangat. Karena seperti 2 ringkasan di atas cocok sekali menggambarkan keadaan kita yang sedang di tempa, ditekan dan dibakar panas tinggi maka kita sedang dibentuk menjadi manusia yang lebih baik.

Lihatlah sekeliling kita, Akibat tekanan covid kita mulai menghargai lebih para pekerja kesehatan yang berjuang di garda paling depan, kita juga tahu bahwa pendidikan semakin mudah diakses dengan berbagai aplikasi yang sebelum covid melanda, aplikasi itu berbayar dan tentu mahal. Akibat tekanan covid banyak orang mulai bekerja dari rumah dengan demikian semakin banyak waktu bersama keluarga, bersama orang-orang yang kita sayangi, Kita juga tahu akibat covid, alam menjadi lebih ramah lagi. Kadar karbondioksida yang dihasilkan dari kendaraan dan parik mulai berkurang. Sampah wisata mulai berkurang. Disaat kita mengalami suatu tekanan tanpa kita sadari kita menjadi lebih kreatif, lebih smart, lebih tangguh, lebih menghargai hidup sehat, lebih menyayangi keluarga dan saling menjaga antara individu dalam kehidupan sosial. Yang akhirnya kita menyadari bahwa kita telah mengalami kemajuan dalam menjalani kehidupan. Jika kita tidak mengalami tekanan covid ini…. kemajuan itu akan lambat berjalan. bahkan mungkin tidak akan pernah terjadi kemajuan dalam kehidupan kita.

Maka mari kita memandang kedepan kehidupan setelah pandemi covid ini dengan Optimis dan semangat. Optimis kita menjadi lebih kuat, smart, kratif dari sebelum terjadi pandemi.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. … (Yeremia 29:11-13)

Berkah Dalem.

Note : Berikan komentar ya…

Comments 8

  1. Dlm masa pandemi byk yg tlh kita lalui & alami. Byk perubahan yg hrs kita jalani pula. Suka, duka, & sgl rasa yg bahkan mgkn kita tdk bs ungkapkan. Tp kita tetap hrs tegar terlbh sbg seorg pendidik yg rindu kehadiran mrd di dpn kita. Rindu kebersamaan dlm semua kegiatan. Kita mkn ditempa utk bersatu, bergandeng tangan memajukan sklh kita. Lbh2 kita bs semkn berempati pada lingkungan sekitar, mkn memperbyk wkt utk kelg. Pokoknya meski ada pandemi, kita tetap hrs bs lbh sglnya, krn percaya Tuhan sll beri yg terindah n tepat pada waktunya.

  2. Permenungan yg sangat mendalam.... dari situasi pandemi ini banyak hal yg hrs sy pelajari lg. Belajar sabar, belajar menahan diri, belajar berbagi, belajar tdk egois, belajar empati.... Kadang2 sy berpikir apakah Tuhan sedang menghukum kita? Oh rasanya tidak karena Tuhan maha rahim, maha kasih.... Tuhan sangat sayang pd umatNya. Yakin Tuhan pasti sell menjaga kita. Amin. Berkah Dalem. Gusti Yesus Mesti Paring Dalan.

  3. Aku berjalan digaris garis yg Engkau goreskan...
    Apa yg ada diperjalananku, adalah campur tangan-Mu..

    Terimakasih untuk permenungannya...
    Kita diajari oleh Sang Pencipta
    Akan segala hal....
    Dimasa pandemi ini...
    Sang Pencipta hadir lewat pengalaman, lewat cinta yang diberikan orang lain...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *